“UNISKA MAB BANJARMASIN TURUT MENDUKUNG VAKSINASI”

RRI Banjarmasin : Uniska Muhammad Arsyad Al-Banjari (MAB) sudah mendapat surat dari Puskesmas dan diberi jatah sekitar 100 orang untuk divaksin. Dilakukan bertahap dan sudah diedarkan ke semua unit di lingkungan Uniska dan sudah didaftarkan. Wakil Rektor Satu Uniska, Dr. H. Jarkawi, MMPd., kepada RRI mengatakan, kalau sudah mencapai 100 orang, petugas puskesmas yang akan datang ke kampusnya.

“Tapi mungkin dari yang 100 orang itu, ada yang tertunda mungkin. Tertunda dalam artian dicek dulu darahnya seperti apa. Penyakitnya harus diketahui. Tidak asal disuntik saja. Bisa berbahaya. Yang jelas, usia antara 50-60 itu dicek dulu,” kata Jarkawi.

Kesiapan ini dikarenakan menghadapi semester genap yang kemungkinan akan dilaksanakan dengan pola pembelajaran tatap muka, yang diatur sesuai izin Gugus Tugas Covid 19 Kalsel. Kata Jarkawi, untuk pedoman tatap mukanya sudah mereka persiapkan. Mau tidak mau divaksin dulu. Supaya mengurangi penyebarannya.

Orang yang menolak vaksin, diharapkan Jarkawi, jangan. Kecuali yang bersangkutan memiliki riwayat penyakit yang harus disembuhkan dulu. Tapi kalau sehat, tegas Jarkawi, silakan divaksin. Karena Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menyatakan halal, dan di berbagai instansi, untuk vaksin juga sudah berjalan, termasuk di Institusi Polri dan TNI dan para Tenaga Medis, juga sudah divaksin. Sehingga tidak perlu lagi diragukan.

Menanggapi aturan bahwa yang menolak divaksin akan diberikan sanksi atau hukumzn berupa dicabut hak Bpjsnya dan semua layanan publik yang bersangkutan tidak diberikan, Jarkawi menyatakan, mungkin boleh-boleh saja sanksi itu. Tapi kedepan, yang bersangkutan tetap diingatkan untuk divaksin, demi keselamatan bangsa dan negara.

“Tentu yang bersangkutan bekerja dan perusahaan juga menetapkannya. Kalau dia pedagang, dari Pemerintah juga akan ada aturan. Tapi mungkin tidak sekejam itulah. Mungkin peringatanlah dulu. Diingatkan, bahwa ada sanksi,” Jarkawi menegaskan.

Diungkapkan, masyarakat harus terus diberikan pemahaman mengenai vaksin ini. Karena memang selama ini banyak berita hoax yang beredar. Sehingga perlunya pendekatan melalui para pakar kesehatan, melibatkan Tokoh-tokoh Agama dan Tokoh-tokoh Masyarakat, maupun komponen masyarakat lain yang memiliki power (kekuasaan). Pihak Uniska pun bisa.

“Bisa jadi nanti setelah divaksin, dia (Dosen Uniska) menganjurkan pada Mahasiswanya. Kita sebagai seorang Akademisi menerima kenyataan yang bersifat ilmiah dan agama sudah memperbolehkan. Tidak masalah. Jadi promosinya berupa poster untuk menganjurkan pada Mahasiswanya,” pungkasnya.(juns)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *