MERDEKA BELAJAR MENGHADAPI “NEW NORMAL” Dr. H. Kasypul Anwar, M.M.Pd

Perilaku kehidupan dipaksa berdampingan dengan virus Covid-19 dan harus beradaptasi Dalam  beraktivitas, berinteraksi sosial, menjalankan ibadah sesuai keyakinan menjadi harus beradaptasi, menjaga jarak, dan berperilaku hidup bersih.

Istilah “New Normal” merupakan suatu keadaan dimana setiap orang beradaptasi dengan kenormalan baru yang semula tidak normal. New Normal atau kehidupan normal yang baru, memiliki makna bahwa kita dapat beraktivitas secara normal seperti sebelum dilanda Covid-19, namun tetap menerapkan protokol kesehatan. Setiap orang harus mematuhi protokol kesehatan dimanapun dan kapanpun. Tentu normal saat ini memiliki nuansa yang sangat berbeda. Seluruh sektor kehidupan akan bersiap-siap menerapkannya, tak terkecuali dalam sektor pendidikan.

Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan kebijakan Belajar dari Rumah atau Learning From Home.  Pada konteks inilah konsep “merdeka belajar” merupakan konsep belajar secara mandiri dan kreatif dengan membangun ekosistem pendidikan berbasis teknologi dengan aplikasi seperti Zoom, Google Classroom, Webex

Merdeka belajar dapat diwujudkan dengan menggali potensi para pendidik dan peserta didik untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Guru yang berkualitas dan berkompeten dapat mendorong kesuksesan belajar siswa. Guru tidak akan bisa digantikan oleh teknologi. Teknologi adalah alat bantu guru dalam meningkatkan potensi siswa dan menjadi penggerak memimpin pendidikan di sekolah. Oleh karena itu, konsep pelatihan guru perlu disesuaikan dengan kurikulum yang lebih fleksibel.

Kurikulum dapat memilih materi atau metode pembelajaran dengan kualitas tinggi, tetapi sesuai tingkat kompetensi, minat, dan bakat masing-masing siswa. Guru tampil sebagai penggerak, harapannya potensi murid dapat terus tergali, inovasi pendidikan akan terus mengalir, dan kualitas pendidikan menjadi berkelajutan.

Merdeka belajar diwujudkan dengan memaksimalkan desain kurikulum. Pendidikan perlu “kenormalan baru” dari segi kurikulum dengan cara memaksimalkan implementasi kurikulum berdasarkan kenyataan yang ada di tengah pandemi. Masing-masing daerah pasti memiliki sudut pandang dan kearifan lokal tersendiri untuk dapat dikembangkan dalam upaya bersama-sama mewujudkan SDM unggul. Terlebih dalam suasana “New Normal” sudah semestinya setiap pendidikan di daerah diberikan keleluasaan untuk MERDEKA.

“New Normal” era pandemi kita lihat dalam perspektif ke depan, dengan sudut pandang “postpositifisme” sejalan dengan konsep Merdeka Belajar. Kebijakan yang dikeluarkan dalam menghadapi New Normal dibuat secara cermat dan kehati-hatian. Hak anak harus menjadi prioritas (survivor premier customer), yakni hak mendapatkan pendidikan secara penuh, aman, dan sehat yang diutamakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *