“KOMISI YUDISIAL BUKAN HANYA MENGHUKUM. TAPI JUGA MENGADVOKASI HAKIM YANG DIINTERVENSI”

KBRN Banjarmasin : Tugas Komisi Yudisial (KY) tidak Cuma melakukan pengawasan terhadap Hakim, tapi juga ada Bidang Advokasi yang membela Hakim yang diinterpensi dan mungkin direndahkan maratabatnya. KY juga melakukan peningkatan kapasitas Hakim yang perlu penambahan keilmuan, agar nanti putusan-putusannya lebih baik dan Proses Hakim Agung, yang sudah memulai seleksinya.Demikian ditegaskan Ketua Komisi Yudisial Republik Indonesia, Prof. Dr. Mukti Fajar Nur Dewata, SH., M.Hum., Selasa (6/4), usai memberikan paparan dalam kegiatan Stadium General Fakultas Hukum Uniska MAB Banjarmasin.

Dikatakan, Advokasi kurang tersosialisasi, sehingga rata-rata hanya 15 kasus pertahun seluruh Indonesia yang masuk ke Komisi Yudisial. Itu berbeda jika dibandingkan dengan kasus Pengawasan Hakim, antara seribu, dua ribu dan hingga 5 ribu pertahun. Karena tidak tersosialisasikan. Sehingga banyak Hakim yang tidak mengadu kepada komisi tersebut.“Jadi kami ingin sampaikan menjaga martabat Hakim itu adalah kalau anda seorang Hakim yang baik dan mau berbuat yang lurus, lalu kemudian diintervensi, kemudian ditekan-tekan, lapor KY. KY akan bantu anda. Jadi Bukan KY Cuma mau menghukum anda. Enggak. Mengawasi anda lalu menghukum anda, tapi kalau anda memang diintervensi, kami akan datang membantu anda,” ungkapnya.Masa kepengurusan yang diketuai Mukti, yaitu tahun 2020 sampai dengan 2025 membangun sinergitas.

Mengupayakan supaya mempercepat penyelesaian pekerjaan dengan sistim peradilan yang baik, dengan membangun sinergi untuk memperbaiki masa depan. Sehingga KY bersinergi dengan Mahkamah Agung, KPK, Kejaksaan, Kepolisian, PPATK dan Komisi III DPR RI yang berkaiatan dengan hukum. Dikatakan, sinergitas untuk menyelesaikan pekerjaan secara efektif.“Bahwa sinergitas ini bukan dalam arti kolusi. Sinergi hanya bekerjasama sesuai tugas kewenangan masing-masing. Jadi Kita tetap bekerja pada masing-masing, tapi tidak perlulah rebut-ribut. Jargon : KY diera ini akan bekerja professional dan tidak akan mencari sensasional,” tegasnya.Menurut Mukti, Hakim salah satu bagian pembentuk sistim peradilan yang baik. Sistim yang baik akan berdampak luas pada kehidupan masyarakat, baik sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya. Sehingga kepada para kader, para mahasiswa hukum, dia minta, untuk terus belajar dengan cara yang benar dan meningkatkan integritas.

Supaya nanti bisa menjadi Hakim-hakim atau Para Penegak Hukum yang bisa menjaga sistim peradilan menjadi kredibel dan dipercaya publik, baik nasional maupun internasional.Sementara itu, Dr. Afif Khalid, SHi., SH., MH., mengatakan, dengan kegiatan ini, Fakultas Hukum Uniska lebih baik lagi, lebih maju lagi dan bisa bersaing di tingkat lokal dan nasional. Mengharapkan kedepannya mahasiswa lebih baik lagi. Lebih mampu berkomitmen terhadap bagaimana proses penegakan hukum di Indonesia dan mengetahui pada saat mereka lulus dan menjadi penegak hukum, mereka selalu berusaha menjaga integritas mereka, intelektual mereka dan moralitas mereka.Dikatakan, Fakultas Hukum Uniska Hukum Uniska MAB Banjarmasin mengadakan MOU dengan Komisi Yudisial terkait bagaimana pengaduan masyarakat terhadap para Hakim di kalsel.

Terkait dengan Tri Dharma Pendidikan.“MOU kita ini berisikan tentang bagaimana nanti kedepannya mengadakan penelitian dan pengabdian masayarakat. Khususnya kita ada program Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan terkait dengan Kampus Merdeka, Merdeka Belajar,” kata Afif.Dikatakan, Yayasan dan pihak Rektorat, Rektor sangat memberikan apresiasi dan sangat bangga. “Yayasan dan pihak Rektorat, Rektor sangat memberikan apresiasi dan sangat bangga. Kegiatan ini adalah yang pertama kali Fakuktas Hukum Uniska mendatangkan petinggi Negara Ketua KY,” Afif menjelaskan.Hingga kegiatan berlangsung, tidak ada kendala. Pihaknya diberikan kemudahan melakukan kegiatan. Mungkin karena kegiatan ini murni niat baik untuk kemajuan bersama.(juns)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *