Adaptasi Perilaku di Era New Normal dalam Perspektif Psikolog

Wabah virus Corona yang masuk dalam kategori Pandemi meluluhlantahkan hampir di setiap sektor kehidupan manusia diseluruh dunia termasuk Indonesia. Penyebaran virus yang begitu massif dan dasyat menyebabkan timbulnya korban yang begitu besar. Saat tulisan ini di buat jumlah penderita yang terkonfirmasi positif terkena virus corona tercatat sudah hampir menyentuh angka 9 juta jiwa dengan jumlah kematian mendekati angka 500 ribu orang di seluruh dunia, dan di Indonesia tercatat lebih dari 45.000 orang terkonfirmasi positif
Virus Corona. Trend penambahan pasien atau orang yang terkonfirmasi positif Virus coronapun masih cukup tinggi di Indonesia, yaitu masih di angka 1000an lebih penderita baru
terkonfirmasi setiap harinya.

Berbagai macam cara terlah dilakukan oleh pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran Virus Corona, dari kegiatan sosialisasi Pola hidup bersih dan sehat (PHBS),
physical dan social distancing, menggunakan masker saat keluar rumah, hingga membuat aturan yang dikenal dengan nama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pun diterapkan.

Akibat dari kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah inipun berdampak terhadap seluruh aspek kehidupan masnusia. Yang dulunya orang bebas bergaul dan berinteraksi, sekarang harus dibatasi. Yang dulunya orang bebas untuk berniaga secara offline (bertemu tatap muka), sekarang sudah tidak bisa seperti itu lagi. Yang tadinya bekerja dikantor, sekarang harus bekerja dari rumah. Yang tadinya orang dapat bersekolah atau kilah di
kampus, sekarang sistem belajar mengajar di buat secara online (daring). Hingga beribadah di rumah ibadahpun sekarang di atur cara pelaksanaannya.

Setelah menerapkan aturan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) selama sekitar 3 bulan, mulai bulan Juni ini pemerintah sudah mulai membuka beberapa sektor yang tadinya
di tutup secara bertahap dengan aturan-aturan tertentu. Pusat perbelanjaan di buka dengan aturan Ganjil-Genap. Perkantoran di buka dengan pengaturan hari kerja dan pengaturan
fasilitas pendukung wajibnya. Keluar rumah wajib memakai masker dan lain sebagainya. Pengaturan ini dibuat dengan protocol kesehatan yang cukup ketat. Akibatnya, yang tadinya
kita melihat jalanan terasa lengang, sekarang sudah mulai ramai. Terlihat orang-orang sudah mulai beraktifitas kembali seperti sediakala, walaupun aktifitas belajar mengajar di sekolah
dan kampus masih belum akti

Pelonggaran atau pembukaan PSBB secara berkala ini kita kenal dengan istilah “New Normal” atau kenormalan yang baru. Dengan adanya pemberlakuan New Normal tersebut, masyarakat diharapkan dapat beraktifitas kembali dengan mengikuti Protokol Kesehatan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah. Banyak kontroversi dari para ahli, pengamat
Pendidikan, dan masyarakat umum terhadap pemberlakuan New Normal ini. Ada kelompok orang yang mengganggapi hal ini dengan cukup serius, ada kelompok orang yang menanggapinya dengan biasa saja, serta ada juga kelompok orang yang menyepelekan atau tidak perduli terhadap peraturan dan pengaturan yang telah ditetapkan. Manivestasinya dalam kehidupan di masyarakat kita temui dalam bentuk perilaku yang berbeda-beda. Ada orang yang masih cukup takut untuk keluar rumah dan sebisa mungkin untuk di rumah saja. Ada juga yang keluar rumah dengan mengikuti aturan seperti memakai masker dan membawa hand satitizer, tidak bersalaman dan lain sebagainya. Namun, ada kelompok orang yang sama sekali tidak perduli dengan ancaman Virus Corona ini, mereka cenderung tidak memakai masker dan berkumpul saat berinteraksi.

Perilaku di atas dapat di jelaskan dalam perspektif Ilmu Psikologi dengan menggunakan pendekatan Theory of Planned Behavior. Proses terbentuknya perilaku dalam teori ini dapat dilihat pada skema di bawah ini Beberapa komponen dalam teori ini berdasarkan skema di atas yaitu :

Behavioral belief yang memengaruhi attitude toward behavior. Behavioral belief adalah hal-hal yang diyakini individu mengenai sebuah perilaku dari segi positif dan negatif atau
kecenderungan untuk bereaksi secara afektif terhadap suatu perilaku. Sedangkan attitude toward behavior yaitu sikap individu terhadap suatu perilaku diperoleh dari keyakinan terhadap konsekuensi yang ditimbulkan oleh perilaku tersebut. Attitude / Sikap di tunjukkan dengan rasa suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju dan lain sebagainya

Normative belief yang memengaruhi subjective norms. Normative belief adalah norma yang dibentuk orang-orang disekitar individu yang akan berpengaruh dalam pengambilan
keputusan. Sedangkan subjective norms didefinisikan sebagai adanya persepsi individu terhadap tekanan sosial yang ada untuk menunjukkan atau tidak suatu perilaku. Subjective norms ini identik dengan belief dari seseorang tentang reaksi atau
pendapat orang lain atau kelompok lain tentang apakah individu perlu, harus, atau tidak boleh melakukan suatu perilaku, dan memotivasi individu untuk mengikuti pendapat orang lain tersebut (Michener, Delamater, & Myers, 2004)


3. Control belief yang memengaruhi perceived behavior control. Control belief adalah pengalaman pribadi, atau orang disekitar akan mempengaruhi pengambilan keputusan
individu. Perceived behavioral control adalah keyakinan bahwa individu pernah melaksanakan atau tidak pernah melaksanakan perilaku tertentu. Percieved behavior control juga diartikan persepsi individu mengenai kontrol yang dimiliki individu tersebut
sehubungan dengan tingkah laku tertentu (Ismail dan Zain: 2008).

Berdasarkan teori di atas, maka dapat dijelaskan bahwa orang yang cenderung taat untuk mengikuti aturan Protokol Kesehatan dalam dikarenakan memiliki Sikap (Attitude) positif terhadap terhadap Protokol Kesehatan tersebut, mereka meyakini bahwa dengan menjelankan protocol tersebut dalap mencegah atau menghindari mereka untuk tertular Virus Corona; kemudian, orang terdekat dan lingkungan sosialnya cukup berperan dalam
pemberian reward & punishment dalam pelaksanaan protocol kesehatan tersebut; selanjutnya mereka sendiri memiliki pengetahuan dan keyakinan terhadap bahaya atau akibat bila tertular virus corona tersebut. Hal-hal inilah yang nantinya akan menciptakan niat positif untuk mengikuti aturan Protokol Kesehatan sehingga, terwujud di dalam peilaku mengukuti aturan Protokol kesehatan tersebut.

Ditulis Oleh :
Irfan Fitriadi Z / Jatinangor 22 Juni 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *