Pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari Di Kaji Secara Akademik

 

MAKNA dan kedudukan hukum pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari menjadi bahan yang dikupas tuntas dalam dialog terbuka dimana melibatkan berbagai instansi seperti mahasiswa, dosen, Kantor Kementrian Agama, dan aparat kepolisian.

KEGIATAN fokus group discussion (FGD) yang di gagas Universitas Islam Kalimantan (Uniska), Muhammad Arsyad Al-Banjari (MAB) ini, dipandu dosen Fakultas Hukum Uniska, Rahmad Nopliardi, Rabu (11/4/2018).

Dalam perspektif hukum, sebut Rahmat, penelitian yang digunakan adalah metode normatif. Sehingga, sebut dia, murni membaca literatur dan sumber hukum yang menginspirasi dalam mengkaji pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

“Ketika kita melihat pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari seperti Kitab Sabilal Muhtadin yang merupakan kitab pertama di kalimantan, pada waktu itu di abad 18 akhir. Dan diawal abad 19, itu menjadi buku rujukan sultan berbahasa arab melayu pertama,” ujarnya.

Terkait dengan FGD, sebagai Universitas Islam Kalimantan yang menyandang nama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang tidak ada samanya pada universitas di Indonesia, merupakan keanehan apabila tidak menguasai dan memahami pemikiran beliau.

“Kita menyandang nama Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari. Jika kita tidak menguasai dan memahami pemikirannya, itu merupakan keanehan. Makanya kita kaji secara akademik,” ujarnya.

Ada pemahaman-pemahaman yang tidak sampai kepada masyarakat, sambungnya, bahwa  Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari itu bukan seorang mufti. Bahkan, lebih diatas dari seorang mufti besar, sehingga seorang ahli hukum dan filsuf Austria, Hans Kelsen tidak bisa menampung dan mengakomodir pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

“Ditengah kekuasaan Sultan, pemikiran tersebut mampu menginspirasi sehingga menjadi sebuah kebijakan yang diterapkan Sultan. Dalam Hans Kelsen ada urut-urutan, sehingga ini menjadi hal yang menarik walaupun dalam perspektif kedudukan hukum pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Hans Kelsen dan Hans Nawiansky ini tidak memberikan tempat, karena tidak memenuhi unsur-unsur teori Hans Kelsen yang berurut-urutan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan pada waktu itu,” katanya.

Namun demikian sudah melampaui bahwa pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari mampu mempengaruhi, sehingga kesimpulan dalam penelitiannya ini melihat makna dan kedudukan hukum kebijakan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari adalah inspirasi kepada Sultan.

“Sehingga dalam kajian hukum ada peta diluar kemampuan teori Hans Kelsen menampung pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari yang mempengaruhi keputusan Sultan,” katanya.

Bahkan, menurutnya, Sultan yang mengambil alih apabila ada yang melakukan pelanggaran atas aturan kesultanan yang bersumber dari pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.

“Dalam perspektif hukum, penelitian yang kita lakukan ini murni normatif, sehingga ini menjadi hal yang menarik, bahkan dalam diskusi banyak memberikan peluang untuk dilakukan penelitian lagi ditengah literatur yang  minim,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Uniska Jarkawi mengatakan, dari banyaknya kajian penelitian ini, ditargetkan untuk untuk dimasukkan kedalam mata kuliah di Uniska.  “Itu target kita, tentunya sebagai penguatan mata kuliah prodi hukum sebagai pengayaan dan kedepan kita akan meluncurkan buku bertepatan pada hari jadi Uniska,” bebernya.(jejakrekam)

PenulisArpawi
EditorFahriza

Mengkaji Pemikiran Hukum Muhammad Arsyad Al Banjari

BANJARMASIN, klikkalsel – Nama besar Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari tidak hanya dikenal oleh masyarakat Banjar. Negara seperti Brunai, Malaysia dan negara tetangga lainnya mengambil ajaran beliau terutama tentang aturan Islam dalam bernegara.

Bahkan kebijakan Sultan Kerajaan Banjar pada masa itu mengambil pemikiran beliau yang dijadikan kebijakan aturan hukum di tanah Banjar.

Hal tesebut disampaikan Dosen Hukum Universitas Islam kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al Banjari Rakhmat Nopliardy, SH.MH, dalam acara diskusi tentang Makna dan Kedudukan Hukum dalam Pemikiran Syech Muhammad Arsyad Al Banjari, di Uniska Banjarmasin, Rabu (11/4/2018).

Dikatakan Rakhmad dalam kajiannya, Syekh Muhammad Arsyad adalah seorang ulama yang memiliki kedudukan tinggi di kesultanan Banjar. Dimana pemikiran beliau dijadikan acuan atau sumber hukum oleh kesultanan Banjar.

“Pemikiran Arsyad Al Banjari mampu mempengaruhi pikiran Sultan Banjar, dimana pemikiran tersebut dijadikan aturan di masyarakat dan ini adalah implikasi hukum dalam menjalankan Kesultanan pada masa itu,” kata Rakhmad

Pemikiran Syekh Arsyad Al Banjari cukup banyak yang melakukan penelitian. Namun dari sekian penelitian, belum ada yang melakukan kajian Hukum Ketatanegaraan.

‘’Saya melihat dari hukum ketatanegaraan dimana kitab Sabilal Muhtaddin dijadikan kebijakan dalam kesultanan sebagai contoh masyarakat melaksanakannya zakat produktif. Bahkan pemikiran ini melampaui teori-teori luar seperti Henkel dalam tata urut ketentuan peraturan Kesultanan dan teori lain,” ujar Dosen Hukum tata negara Uniska tersebut.

Sementara Dr Muhammad Alfani, Ketua Pelaksana mengatakan, diskusi kajian tentang hukum tersebut membuka wawasan bagi semua.

“Ini adalah langkah maju Uniska dalam menerapkan dan menghidupkan akademik, dimana kegiatan tersebut akan berlangsung sebulan sekali. Dimana sebelumnya kita pernah melakuakn kajian tentang Sungai Tuan di Kabupaten Banjar,” katanya .

Acara tersebut dihadiri pula oleh berbagai Instansi pemerintah dan berbagai Perguruan tinggi Banjarmasin. (azka)

Editor : Farid

Sumber : http://klikkalsel.com/mengkaji-pemikiran-hukum-muhammad-arsyad-al-banjari/

UNISKA KAJI PEMIKIRAN SYEKH M. ARSYAD AL-BANJARI DARI SEGI ILMU HUKUM

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=rKpgoMZNlVQ

Kedudukan Hukum Masa Kesultanan Banjar Menurut Syech Muhammad Arsyad Al-banjari

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=EHPbJ3g35jo

Pemikiran Syech Muhammad Arsyad Lampaui Teori Luar

Baca Selengkapnya : http://www.kalimantanpost.com/pemikiran-syech-muhammad-arsyad-lampaui-teori-luar/

 

Leave a Comment