UNISKA KAJI HERITAGE SUNGAI TUAN KARYA SYEKH MUHAMMAD ARSYAD AL-BANJARI

Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=bnZ-ZPAexlM

 Memunculkan nama Sungai Tuan melalui Focuss Group Discusions

Lentera Uniska – Kini giliran Fakultas Teknik Sipil mengadakan acara Focuss Group Discussion (FGD) yang di selenggarakan oleh pihak kampus Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Muhammad Arsyad Al-banjari (MAAB) bertemakan

“Heritage Sungai Tuan Yang Berfungsi Teknis Sebagai Karya Tuan Haji Besar Muhammad Arsyad Al-banjari Dalam Perspektif Teknik Sipil”, (Sungai Tuan ini merupakan anak sungai Martapura) Yang diadakan di Gedung A Lantai Dasar kampus Uniska MAAB Banjarmasin, Rabu (08/18).

Acara rutin ini di selenggarakan setiap bulan oleh pihak kampus yang mana setiap bulannya fakultas-fakultas di Uniska MAAB secara bergantian mengadakannya.

Tujuan dilaksanakan diskusi ini untuk menggali nilai-nilai dari segi pemikiran Tuan Haji Besar Muhammad Arsyad Al-banjari dengan cara kekinian (Beyond Imagination).

DR.H.Jarkawi, M.M.Pd selaku Wakil Rektor I yang memiliki ide kelompok diskusi ini mengharapkan kedepanya bisa mengeluarkan buku tentang pemikiran Muhammad Arsyad Al-banjari dari berbagai macam perspektif keilmuan serta mahasiswa bisa mempelajari segi pemikiran Tuan Haji Besar Muhammad Arsyad Al-banjari.

“Bisa melahirkan suatu buku dalam 1 tahun dengan 12 penyaji dan salah satu 16 kali pertemuan mahasiswa mata kuliah agama wajib memasukan pemikiran Muhammad Arsyad Al-banjari”. Ujarnya.

Adhi Surya Said, ST, MT, ESP selaku narasumber pada FGD ini berharap mahasiswa dapat menambah pengetahuan dan mengenal sosok Muhammad Arsyad Al-banjari dengan segala peninggalan yang telah ditinggalkannya serta menjaganya,
“Dengan adanya FGD ini bisa menambah khasanan keilmuan dan juga meyakini datuk kelampaian ini adalah tokoh kekinian yang sampai saat ini masih wow, peninggalan beliau harus dilestarikan salah satunya Sungai Tuan yang mulai menyempit”, tuturnya.

Salah seorang mahasiswa Fakultas Teknik Sipil yang mengikuti kegiatan tersebut mengatakan bahwa diskusi ini sangat bagus dan dapat menambah pengetahuan tentang sejarah,

“Acara ini sangat bagus karena membangkitkan sejarah yang belum banyak diketahui orang tentang Sungai Tuan dan dapat melestarikan salah satu peninggalan Tuan Haji Besar Muhammad Arsyad Al-Banjari,” Jelasnya.(ant/pnc)

Sumber : https://lenterauniska.com/2018/03/08/memunculkan-nama-sungai-tuan-melalui-focuss-group-discusions/

Sungai Tuan, Karya Ulama Muhammad Arsyad Al Banjari Dalam Perspektif Teknik Sipil

 

Focus Group Discussion (FGD) Kelompok Diskusi Terpumpun Uniska yang merupakan program akademi baru menggali serta mempelajari pemikiran-pemikiran dan karya-karya dari Tuan Haji Besar Maulana Muhammad Arsyad Al Banjari yang sangat kekinian (beyond imagination) dan berkelanjutan dengan situasi dan kondisi sekarang. Kajian-kajian ini dilakukan disetiap Program Studi yang ada di Uniska dan setiap bulannya dijadikan FGD (Focuss Group Discussion)
Kali ini Program Studi (S-1) Teknik Sipil, Fakultas Teknik membawakan Judul FGD yaitu Heritage Sungai Tuan Yang Berfungsi Teknis Sebagai Karya Tuan Haji Besar Muhammad Arsyad Al Banjari Dalam Perspektif Teknik Sipil

Sebagian urang banjar, pasti pernah mendengar sosok ulama kharismatik Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari seorang ulama fiqih mazhab Syafi’i yang berasal dari kota Martapura di Tanah Banjar (Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Dia hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah. Dia mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian.
Dia adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara.

Tampaknya pada dimensi lain, sosok ulama ini, selain piawai dibidang agama, Arsyad Al Banjari juga dikenal sebagai ahli tehnik dan arsitek ulung, karena membikin Sungai Tuan menjadi sentra irigasi wakrtu itu. Hal inilah menjadi kajian menarik dosen Fakultas Tehnik Uniska Muhammad Arsyad Al Banjari, Adhi Surya Said rela selama dua bulan mengumpulkan literatur dan wawancara ke beberapa sumber baik ke museum Banjarbaru, para tokoh masyarakat serta menggali referensi lain. Guna mengupas sosok Muhammad Arsyad Al Banjari ini.

“Dari kajian dosen Fakultas Tehnik ini, tampaknya Sungai Tuan yang dibikin oleh ulama Arsyad Al Banjari saat ini masih berfungsi teknis untuk itu wajib dijaga dan dilestarikan demi keberlanjutan warisan atau pusaka untuk masa depan sebagai karya teknis Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang sudah berumur 2 Abad,” tegas Adhi, usai acara Diskusi Publik “Heritage Sungai Tuan Yang Berfungsi Teknis Sebagai Karya Tuan Haji Besar Muhammad Arsyad Al Banjari Dalam Perspektif Teknik Sipil,” di Kampus Uniska, Rabu (7/3)

Sungai Tuan dibuat, oleh Arsyad, untuk kebutuhan sistem irigasi pertanian, persawahan dan perkebunan. Karena pada waktu itu sungai tuan juga berfungsi sebagai sistem transportasi air dan sungai. Sungai Tuan harus segera dinormalisasikan karena kondisinya sekarang kritis dengan adanya pendangkalan dan penyempitan sungai.

“Kajian secara teknis dan perhitungan sungai tuan bisa dilakukan dengan penelitian yang mendalam. Normalisasi sungai tuan dengan tujuan dijadikan sebagai heritage atau warisan dunia melalui PBB (UNESCO),” ujarnya.

Pada waktu itu juga Martapura Lama sering kebanjiran sehingga dengan disudetnya sungai martapura, kondisi banjir di Martapura lama dapat ditangani. Sungai Tuan adalah sungai buatan berupa sudetan dari Sungai Martapura Ulu ke Sungai Martapura Ilir. Pertemuan Arus Air dari Riam Kiwa dan Riam Kanan.

Dalam pelaksanaan Syekh Muhammad Arsyad membuat irigasi, agar dapat mengalirkan air yang selalu tergenang di daerah dataran yang terendah, maka beliau menggoreskan tongkatnya sepanjang 8 km. Yang kemudian menjadilah ia anak sungai yang dapat mengalirkan airnya ke sebelah menyebelahnya.

Goresan tongkat yang menjadi anak sungai inilah yang menjadi sumber nama kampung itu, yakni dua ungkapan yang terdiri dari Sungai dan Tuan, sehingga tergabunglah keduanya menjadi nama suatu kampung yaitu kampung Sungai Tuan. Mayoritas penduduknya adalah zuriat Syekh Muhammad Arsyad dari isteri beliau bernama Tuan Palung.

Kemudian terusan atau anak sungai itu disempurnakan, sehingga akhirnya berfungsilah sebagai irigasi yang dapat mengatur jalannya air, dan diperolehlah lahan yang dulunya nonproduktif menjadi lahan yang produktif; dengan demikian konsep ihya ul mawat dalam islam, sudah diterapkan oleh Syekh Muhammad Arsyad sejak dua abad yang silam (200 tahun masehi yang lalu). Dan beliau sangat paham dengan ilmu falak, mengetahui kapan debit air maksimal (pasang) dan kapan air minimal (surut).

Beliau menarik garis dengan ilatung dari Matahari Terbit menuju Matahari Terbenam (Timur ke Barat)
Menurut Adhi, fungsi Sungai Tuan sebagai sistem pengendali banjir pada saat itu memang mumpuni, Dengan mereduksi aliran air Riam Kiwa masuk ke Sungai Tuan sangat mungkin, sehingga pertemuan debit aliran Riam kiwa dengan Riam Kanan menjadi berkurang, karena sudah direduksi oleh sudetan Sungai Tuan yang titik awalnya berada di Jembatan Astambul.

Sehingga debit banjir di Martapura Lama dapat dikendalikan. Menurut data BWS II Kalimantan Selatan bahwa sejak 2016, 2015, 2014 kecamatan Astambul bahkan di daerah sungai tuan sering terjadi banjir (lihat peta banjir).
Sudah 2 Abad sungai tuan mengalami penyempitan dan pendangkalan dengan adanya sedimentasi transpor, dengan debit rata-rata 100 km/jam sungai martapura dan tumbuhnya rumah-rumah di sekitar sungai tuan. Perlu adanya perbaikan kembali dengan normalisasi sungai. Tahun 1962, Ir.Soekarno pernah melakukan normalisasi sungai tuan.

Pernah tahun 2013, zaman Presiden SBY, Menteri Ristek Prof.Ir.H.M.Hatta (Urang Banjar) bersama Bupati Pangeran Khairul Saleh mau melakukan normalisasi sungai tuan tetapi terkendala pembebasan lahan sehingga gagal dilaksanakan.
Didalam Buku Perkapalan Rakyat Kalimantan Menuju Sistem Inovasi Nasional Transportasi Air dan Sungai dikatakan pada Abad ke 18, satu-satunya transportasi air adalah perahu atau jukung (sebutan bahasa Banjar) yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari dengan berbagai macam jenis jukung yang tertua adalah jukung pandan liris (perahu bagiwas) pada abad ke-14 berikutnya jukung sudur pada abad ke-15.

Maka benarlah julukan kota kita adalah kota seribu sungai dimana jalan atau transportasi yang digunakan melalui sungai dan anak-anak sungai.Dengan adanya sungai tuan yang memotong atau menyudet menyebabkan jarak ke makam Orang tua Datuk Kalampayan semakin pendek tidak memutar melalui sungai martapura tetapi masuk ke sungai tuan dan ke Sungai Lok Gabang. Melalui Sungai Tuan lah menuju tempat berkholwat yaitu yang menjadi makam beliau sekarang Makam Datuk Kalampayan di Kalampayan.

Fungsi teknis Sungai Tuan sebagai sistem irigasi, dengan luas lahan 216.50 Ha dengan 22 desa dalam Kecamatan Astambul merupakan areal pertanian, persawahan, perikanan darat dan perkebunan merupakan daerah potensial.
Untuk kemandirian ponpes Dalampagar maka sungai tuan yang berfungsi sebagai sistem irigasi mampu mengaliri sawah dan ladang disekitar kampung dalampagar. Terbukti bahwa perdagangan lada di zaman Penjajah Belanda merupakan daerah pengeksportir lada hitam untuk pasar eropa pada saat itu (wawancara dengan Yusliani Noor)

Dalam survei Januari 2018 bahwa fungsi teknis sungai tuan masih digunakan meskipun kondisi sungai sangat kritis, rata-rata lebar sungai 3-6 meter dengan panjang sungai kurang lebih 8 km.
Dari hasil wawancara dengan penduduk kampung Sungai Tuan menyatakan bahwa Sungai Tuan dibuat oleh Datuk Kalampayan.

Dari hasil wawancara dengan Dwi Putro Sulaksono, praktisi sejarah, petugas museum Lambung Mangkurat, penulis buku Perkapalan Rakyat Kalimantan Menuju Sistem Inovasi Nasional Transportasi Air Dan Sungai, bahwa Sungai Tuan adalah warisan atau pusaka yang diturunkan kepada anak cucu untuk sebagai mana fungsi sungai dijaga dan dilestarikan. Bisa diusulkan untuk jadi heritage ke PBB (Unesco) dengan aturan yang ditetapkan.

rel/hms

Sumber : http://infobanua.co.id/2018/03/sungai-tuan-karya-ulama-muhammad-arsyad-al-banjari-dalam-perspektif-teknik-sipil/

Menghidupkan Kembali Sungai Tuan, Menjaga Warisan Datu Kalampayan

KARYA terbesar dalam teknik sipil yang ditorehkan Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary berupa Sungai Tuan di Kabupaten Banjar, dibedah. Sodetan sungai buah tangan ulama besar Tanah Banjar sepanjang kurang lebih 8 kilometer dari hulu Sungai Martapura, pertemuan Riam Kiwa dan Riam Kanan sampai ke Dalam Pagar atau Sungai Martapura Hilir merupakan warisan yang bernilai tinggi dan patut dijaga.

UNTUK itu, Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al-Banjary (Uniska MAB) menggelar diskusi kelompok terpumpun bertajuk Heritage Sungai Tuan Berfungsi Teknis sebagai Karya Insinyur Tuan Haji Besar Maulana Muhammad Arsyad Al-Banjary dalam Perspektif Teknik Sipil di Kampus Uniska, Jalan Adhyaksa Banjarmasin, Rabu (7/3/2018).

Wakil Rektor I Uniska MAB, DR H Ahmad Zarkawi mengungkapkan dalam diskusi terpumpun ini, pemikiran seorang Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary dari disiplin ilmu teknik sipil sangat menarik dan perlu ditindaklanjuti kembali. “Ya, nantinya Uniska akan menggandeng para arkeolog, pengelola museum dan pemerintah daerah untuk melakukan penelitian mendalam bagi kemashlatan masyarakat,” tutur Zarkawi.

Dia mengungkapkan jika Sungai Tuan kembali dihidupkan, tentu akan mengurangi debit air dan arus banjir karena posisinya yang strategis. “Sungai Tuan itu merupakan pertemuan dua sungai. Jadi, dari segi lingkungan, pertanian, perkebunan tentu sangat penting. Jika air lancar mengalir, tentu tanah akan subur dan bisa meningkatkan ekonomi masyarakat,” ucap Zarkawi.

Sementara itu, penyaji makalah hasil penelitian, Adhi Surya Said menuturkan sekarang keberadaan sungai Tuan sudah sangat kritis dengan adanya penyempitan sungai. Kelebaran sungai kini hanya berkisar 3- 6 meter, karena bantaran sungainya telah berubah menjadi kawasan hunian warga.

“Fungsi Sungai Tuan tak lagi  bisa dilewati transportasi air dan dimanfaatkan secara maksimal. Kami berharap adanya kajian mendalam soal Sungai Tuan, terutama Dinas Pekerjaan Umum dan Balai Wilayah Sungai Kalimantan II. Bahkan, Bupati Banjar bisa mengusulkan kembali normalisasi Sungai Tuan sehingga fungsi teknis bisa terpenuhi lagi,” ucap magister teknik Insitut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Fungsi teknis Sungai Tuan yang dimaksud Adhi Surya adalah sebagai sistem irigasi, transportasi air dan pengendali banjir . Sebab, beber dia, saat ini ketika hujan ekstrem turun langsung banjir,  padahal fungsi Sungai Tuan sangat strategis. “Padahal, ada sekitar 200 hektare lahan pertanian dan perkebunan di Kecamatan Astambul bisa dialiri, asalkan Sungai Tuan sebagai saluran primer dibersihkan dan mengaktifkan saka-saka penunjang,” beber Surya.

Penasihat Yayasan Zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary, Muhammad Zailani menyambut hangat dan sangat mengapresiasi adanya penelitian dan diskusi terpumpun dihelat Uniska MAB. “Apalagi kembali mengangkat Sungai Tuan yang dulunya berfungsi sebagai sungai pengairan pertanian dan perkebunan serta transportasi air,” ucapnya.

Ia mengungkapkan sejarah Sungai Tuan adalah pemberian dari Sultan Banjar, yang kemudian dibuatkan sungai untuk mengabadikan nama tokoh agama serta mufti kesultanan. “Kami juga mendukung apabila ada rencana normalisasi Sungai Tuan. Tentunya, bisa berdampak positif bagi sarana transportasi air untuk tujuan wisata religi,” kata Zailani.

Menurutnya, dalam waktu dekat, Yayasan Zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjary akan menyampaikan langsung usulan kepada Bupati Banjar KH Khailurrahman untuk menghidupkan kembali warisan sejarah Datu Kalampayan.(jejakrekam)

Sumber : http://jejakrekam.com/2018/03/07/menghidupkan-kembali-sungai-tuan-menjaga-warisan-datu-kalampayan/

Pakai Tongkat, Ulama Arsyad Al-Banjari Membuat Aliran Sungai Tuan

Banjarhits.id – Sebagian urang Banjar, pasti pernah mendengar sosok ulama kharismatik Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Ia seorang ulama fiqih mazhab Syafi’i yang berasal dari Kota Martapura, Kabupaten Tanah Banjar (dulu disebut Kesultanan Banjar), Kalimantan Selatan. Arsyad Al-Banjari hidup pada masa tahun 1122-1227 hijriyah atau 1702-1812 masehi, yang mendapat julukan anumerta Datu Kelampaian.

Dia adalah pengarang Kitab Sabilal Muhtadin yang banyak menjadi rujukan bagi banyak pemeluk agama Islam di Asia Tenggara. Selain piawai di bidang agama, Arsyad Al Banjari mahir sebagai ahli teknik dan arsitek ulung setelah sukses membikin aliran Sungai Tuan sebagai irigasi pertanian semasa itu.

Karya di luar bidang agama ini yang mendorong dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (Uniska), Adhi Surya Said, rela selama dua bulan mengumpulkan literatur dan wawancara ke beberapa sumber, baik ke museum Lambung Mangkurat di Banjarbaru, tokoh masyarakat, serta menggali referensi lain. Riset kecil ini demi mengupas sosok Muhammad Arsyad Al Banjari sebagai ahli teknik

Sungai Tuan kini dibagi menjadi dua administrasi desa: Sungai Tuan Ulu dan Sungai Tuan Ilir, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar. “Tampaknya Sungai Tuan yang dibikin oleh ulama Arsyad Al Banjari saat ini masih berfungsi teknis, untuk itu wajib dijaga dan dilestarikan demi keberlanjutan warisan atau pusaka untuk masa depan sebagai karya teknis Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari yang sudah berumur 2 abad,” kata Adhi usai Diskusi Publik “Heritage Sungai Tuan Yang Berfungsi Teknis Sebagai Karya Tuan Haji Besar Muhammad Arsyad Al Banjari Dalam Perspektif Teknik Sipil,” di Kampus Uniska Banjarmasin, Rabu (7/3)

Arsyah Al Banjari membuat aliran Sungai Tuan untuk kebutuhan sistem irigasi pertanian, persawahan, dan perkebunan. Selain itu, aliran sungai berfungsi menopang transportasi air. Adhi mengusulkan Sungai Tuan harus segera dinormalisasikan karena kondisinya kritis dengan adanya pendangkalan dan penyempitan sungai.

Menurut dia, kajian teknis dan perhitungan Sungai Tuan bisa lewat penelitian mendalam. “Normalisasi Sungai Tuan bertujuan dijadikan sebagai heritage atau warisan dunia melalui PBB (UNESCO),” ujarnya.

Adhi menceritakan, niatan Arsyah Al Banjari membuat Sungai Tuan karena kawasan Martapura Lama sering kebanjiran. Alhasil, si ulama menyudet Sungai Martapura, dan bencana banjir di Martapura lama dapat ditangani. Saat itu, fungsi Sungai Tuan sebagai sistem pengendali banjir memang mumpuni, karena menekan aliran air Riam Kiwa yang masuk ke Sungai Tuan.

Sehingga pertemuan debit aliran Riam Kiwa dengan Riam Kanan menjadi berkurang, setelah disudet lewat Sungai Tuan yang titik awalnya berada di Jembatan Astambul. Sehingga debit banjir di Martapura Lama dapat dikendalikan.

Aliran air di Sungai Tuan kemudian mengairi persawahan. Sungai Tuan adalah sungai buatan berupa sudetan dari Sungai Martapura Ulu ke Sungai Martapura Ilir. Pertemuan arus air dari Riam Kiwa dan Riam Kanan. Uniknya, Arsyad Al Banjari menggoreskan tongkatnya sepanjang 8 kilometer untuk membuat anak sungai yang dapat mengalirkan airnya ke daratan di sepanjang Sungai Tuan.

Goresan tongkat yang menjadi anak sungai inilah yang menjadi sumber nama kampung itu, yakni dua ungkapan yang terdiri dari Sungai dan Tuan, sehingga tergabunglah keduanya menjadi nama suatu kampung yaitu kampung Sungai Tuan. Mayoritas penduduknya adalah zuriat Syekh Muhammad Arsyad dari isteri beliau bernama Tuan Palung.

Terusan atau anak sungai itu disempurnakan, sehingga berfungsi sebagai irigasi yang mengatur pasokan air. Aliran irigasi ini mampu memproduktifkan ladang pertanian. Konsep ihya ul mawat dalam Islam sudah diterapkan oleh Syekh Muhammad Arsyad sejak dua abad yang silam (200 tahun masehi yang lalu).

“Dan beliau sangat paham dengan ilmu falak, mengetahui kapan debit air maksimal (pasang) dan kapan air minimal (surut). Beliau menarik garis dengan ilatung dari matahari terbit menuju matahari terbenam (timur ke barat),” kata Adhi.

Setelah dua abad, Sungai Tuan mengalami penyempitan dan pendangkalan karena sedimentasi transportasi dan tumbuhnya rumah-rumah di bantaran Sungai Tuan. Itu sebabnya, ia meminta perlu adanya normalisasi Sungai Tuan.

Dalam survei Januari 2018, Sungai Tuan masih berfungsi meskipun kondisinya sangat kritis, rata-rata lebar sungai 3-6 meter dengan panjang sungai kurang lebih 8 km. Mengutip wawancara dengan Dwi Putro Sulaksono, petugas Museum Lambung Mangkurat dan penulis buku Perkapalan Rakyat Kalimantan Menuju Sistem Inovasi Nasional Transportasi Air Dan Sungai, Adhi menuturkan Sungai Tuan sebagai warisan atau pusaka yang mesti dijaga dan dilestarikan. Bahkan, bisa diusulkan ke PBB sebagai heritage. (Anang Fadhilah) Foto: Ulamaku

Sumber : https://kumparan.com/banjarhits/pakai-tongkat-ulama-arsyad-al-banjari-membuat-aliran-sungai-tuan

Leave a Comment